Kak Aysha sedang ada penilaian tengah semester minggu ini. Praktis kondisi emosinya tidak stabil, barangkali psikosomatis menghadapi ujian.

Selepas 'isya, ia mulai uring-uringan. Adaaaa saja hal-hal yang bisa dijadikan masalah, misalnya ingin belajar diatas tembok tapi lampu kurang terang & rumah sebelah menakutkan, ingin belajarnya diatas pohon tapi takut gelap, dll. Saya masih belum turun tangan karena masih sibuk dengan Arsya yang juga meminta perhatian, ayahnya yang berusaha meladeninya dengan berupaya mengadakan lampu darurat.

Setelah beberapa saat, uring-uringan kak Aysha bertambah menjadi tangisan. Jreng jreng jreng.. saatnya bunda harus turun tangan ini.

Bunda: "Kenapa ayah?"

Ayah: "Ini, Aysh ga bisa baca kisi-kisinya itu gimana".

Bunda: "Oh, itu.. oke.. sini.. sini.. bunda ajari cara belajarnya ya..".

Saya lihat kak Aysha duduk jongkok menunduk di lantai sambil matanya merah semacam "mbrambangi".

Bunda: "Bunda ajari cara belajar dari kisi-kisinya ya.. nanti kakak bisa lanjutkan sendiri. Kalau ada kesulitan, kakak bisa sampaikan lagi. Oke?"

Kak Aysha mengangguk.

Bunda: "bla..bla..bla.." (memberikan contoh belajar)

Kak Aysha: "trus nanti Soalnya ditulis dulu apa gimana? Jawabannya yo panjang-panjang. Nanti lama. Yo capek. Nanti ga selesai.." sambil "mecucu" & "mbrambangi" lanjut nangis sesenggukan.

Bunda berusaha berempati, tetap tersenyum: "Oh, ga harus ditulis kakak,, senyamannya kakak saja mau bagaimana. Kalau dengan dibaca saja cukup, tidak harus ditulis. Kalau kak Aysh lebih enak belajarnya dengan nulis, ya ditulis. Yang penting kakak nyaman belajarnya, jadi insyaallah ilmu yang dipelajari juga lebih mudah kakak terima. Lha ini kakak ga bawa buku?".

Kak Aysha: "Ini", sambil menunjukkan buku tulis.

Bunda: "maksud bunda buku pelajaran, yang ada materinya. Kan kakak butuh cari jawaban dari sana".

Kak Aysha: "Oh, iya ya. Itu bukuku disana. Diatas tembok yang sana".

Setelahnya kak Aysha mulai belajar materi yang diujikan berdasarkan kisi-kisi yang telah diberikan dengan perasaan yang ringan. Alhamdulillah.. Barangkali ia hanya ingin memastikan bahwa kami peduli & mau mendampinginya dalam belajar.

Saya berusaha berempati dengan apa yang kak Aysha rasakan. Tekanan untuk memiliki nilai akademik yang baik dari sekolah sudah cukup berat baginya yang memang tidak cocok dengan gaya belajar di sekolahnya. Sungguh tidak bijaksana kalau kami di rumah juga menghakiminya & hanya menyuruhnya belajar tanpa berusaha berempati dengan apa yang dirasakannya.

Malam ini kami kembali menegaskan, bahwa nilai akademik bukanlah sebuah tujuan. Kami sangat menghargai setiap proses belajarnya. Perkara hasil tidak perlu dirisaukan, yang kami minta hanya agar kak Aysha berupaya dengan kemampuan terbaik.

Nampaknya pesan tersebut bisa dipahami oleh kak Aysha. Ia mengangguk mantap & berjanji esok akan lebih baik lagi dalam menyiapkan sekolahnya. Alhamdulillah.

#hari8

#tantangan10hari

#gamelevel1

#komunikasiproduktif

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional