Kesabaran ayah bunda kembali teruji, kak Aysha kembali jedar-jedar. Demikian memang yang acap kali terjadi ketika ia dikuasai panik/ketakutan atas suatu hal/kejadian.

Senin lalu, kak Aysha mendapat tugas membuat sebuah bangun ruang kerucut. Barangkali kombinasi lelah & sedang berjuang melawan virus influenza, membuat kak Aysha begitu lemot dalam mengerjakan segala sesuatu. Mandi sore itu harus diopyak-opyak bunda berulang kali. Pun dengan sholatnya. Jangan Tanya ngajinya bagaimana, lewattt..

Bunda ingatkan untuk menyiapkan sekolahnya, blas ga direspon, justru asik main dengan adiknya & kucing. Barulah jam 20an ia mulai bergerak menyiapkan jadwal pelajaran hari Selasa & drama bangun ruang kerucut dimulai.

Kak Aysha panik sekali karena sudah jam 20an & ternyata ia memiliki banyak PR selain harus membuat sebuah kerucut. Kak Aysha jadi Uring-uringan, marah-marah, nangis, bolak-balik buka tutup pintu kamar, fiuhhh.. sabar..

Bunda ga bisa bantu karena adiknya juga meminta perhatian, akhirnya ayah yang turun tangan. Kak Aysha benar-benar tidak mau bergerak, Ada tantangan tapi Tak mau menyambutnya. Ada saja salah dimatanya. Ayah minta kertas + jangka saja ia malah marah-marah, banyak keluhannya katanya ga punya. Padahal kertas sak tumpuk Ada, & jangka pun Ada. Pendeknya, ayahlah yang pada akhirnya membuatkan kerucutnya, mulai dari menyiapkan alat & bahan, menggambar pola & mengguntingnya.

Kak Aysha ngapain? Kak Aysha tidak mau melakukan apa-apa, sampai bunda gemes & menyuruhnya mengerjakan PR lainnya. Meskipun dengan ogah-ogahan, akhirnya ia mau juga ngerjakan PR.

Fiuhhh.. perjuangan meningkatkan kecerdasan kak Aysha memang luar biasa mengaduk-aduk emosi.

Setelah prakarya yang dibuatkan ayah jadi, barulah emosinya mulai terkendali. Ia memperhatikan saat ayahnya menjelaskan bagaimana membentuk jaring-jaring tersebut menjadi sebuah kerucut (caranya ngeLem, karena katanya ngeLemnya harus di sekolah keesokan harinya).

Barangkali Cara kami terkesan salah karena kami terlihat lunak dalam memberikan bantuan. Tapi percayalah, kalau kita paksakan berusaha membuat lengkung kayu yang keras, yang akan kita dapati adalah kayu tersebut akan patah. Karena mendidik tidak semudah membalik telapak tangan, perlu proses yang tentu Tak sebentar. Kita harus memahami sebab akibat, seperti kenapa kok diusianya yang sudah 11th, kematangan emosi kak Aysha baru dilevel 7 tahun. Kenapa kok kak Aysha mudah putus asa & sering ketakutan Tak siap dalam menghadapi tantangan. Tentu pengalaman hidupnya selama ini yang membentuknya menjadi demikian. Perlu ilmu maklum dalam mendidiknya. Saya memahami 1 hal, dalam menerapkan kedisiplinan & melatih kecerdasan kita tak harus saklek. Terutama pada anak-anak yang pada masa emasnya Tak mendapatkan cukup kasih sayang & perhatian.

Gelas pecah saja kita sulit menyatukannya lagi, kalaupun bisa diLem pasti terlihat bekasnya. Agar gelas tersebut bisa kembali utuh tanpa cacat, prosesnya Tak mudah, harus dihancurkan dulu untuk kemudian kembali dibentuk. Itu gelas, kawan..

Bayangkan bagaimana kalau yang pecah itu adalah hati seorang anak..

#KelasBundaSayang

#InstitutIbuProfesional

#FamilyProject

#MyFamilyMyTeam