Sibling rivalry? Perbedaan usia 9th diantara kedua putri kami pun tak bisa terhindar dari hal tersebut. Dahulu, kak Aysha menjadi satu-satunya putri kesayangan ayah. Perhatian & cinta kasih tercurah semua untuknya. Semenjak ada adik, ayah kebetulan juga semakin sibuk dengan pekerjaannya, kalau kebetulan sedang luang & menemani para putri bermain, ayah sering khawatir & mengekspresikan kekhawatirannya secara spontan.

Sebenarnya ayah khawatir karena dek Arsya belum mengerti, jadi kalau ada adegan kejar-kejaran atau saling memukul tongkat/sulak/sapu dll, ayah akan mengingatkan kak Aysha untuk hati-hati. Kak Aysha sering merasa sedih & marah pada ayah yang dia anggap lebih menyayangi adiknya. Padahal sebenarnya ayah hanya ingin kakak yang Lebih besar, bisa Lebih mengerti kondisi adiknya yang memang masih kecil yang belum tahu bahaya. Kak Aysha memang memperlakukan adiknya seperti teman sebaya, pukul ya pukul betulan, kalau sedang kejar-kejaran, ya lari beneran saling tarik & sering adiknya menabrak barang-barang.

Malam tadi, kedua putri kami berebut sulak. Bunda sedang sibuk memasak untuk makan malam, jadi ayah yang kebetulan sedang  luang lah yang mendampingi anak-anak. Beberapa waktu terdengar 2 Putri kami tertawa-tawa, setelahnya terdengar mulai eyel2an saling mengklaim "punyaku", Tak berapa lama kemudian kak Aysha terdengar masuk kamar sambil membanting pintu. Ayah juga terdengar ngomyang. Saya sudah menduga pasti Ada sesuatu nih..

Ayah menyusul bunda ke dapur,

Bunda: Kenapa yah?

Ayah: itu lho, aysh benar-benar ga bisa ditegur. Piye to Jane ki? Kok koyo aku ki salah terus. Dadi sedih aku nek ngene ki (raut mukanya mbingungi ga tenang)

Bunda: kenapa to?

Ayah: sulak itu ditarik rebutan sama adiknya, lak yo khawatir. Soalnya aku pernah terluka karena diujung sulak Ada pakunya. Ya mungkin di sulak tadi ga Ada. Tapi karepku tu mbok ya yang baik, ga ditarik paksa gitu.

Bunda: Trus sekarang Aysha marah?

Ayah: Ya kaya'nya sedih gitu. Aku malah piye.. (terlihat jelas beliau sedih & bingung)

Saya tersenyum prihatin dan meneruskan memasak, ayah kembali menemani Arsya. Saya tahu, pasti saat ini kak Aysha sedang nangis di kamarnya. Biarlah, Saya merasa harus memberikan waktu untuknya menenangkan diri.

Selepas memasak, saya cukup lega karena kak Aysha sudah tidak mengurung diri di kamar. Rupa-rupanya ia sedang disamping rumah ngelus-elus kucing. Saya lihat matanya merah, sembab abis menangis.

Saya menghampirinya dengan membawa masakan saya tadi.

Bunda: Bunda masak ini ni kak, kakak mau coba?

Kak Aysha: Apa itu?

Bunda: Tumis putih telur saos tiram.

Kak Aysha mengambil 1 potongan kecil, enak katanya sambil ngasih jempol.

Bunda: malam ini maem sama lauk ini ya?

Kak Aysha: ok. Bunda ini tadi misahin telurnya ginana?

Bunda: bunda beli putih telur yang sudah direbus, jadi tinggal potong-potong kasih bumbu. Btw, kakak kenapa? Kok bunda lihat kaya' abis nangis gitu?

Kak Aysha: gapapa. (Begitu jawabnya sambil menggeleng, terlihat jelas ia menghindari kontak mata dengan Saya & hanya menunduk)

Saya elus punggungnya seraya berkata: Hmmm.. kakak sedih ya? Tadi bunda sempat dengar ayah tegur kakak. Maafkan ayah ya.. Ayah tidak bermaksud menyalahkan kak Aysh. Ayah nyesel banget lho tadi, ayah juga sedih, ayah takut bikin kak Aysh sedih. Ayah tu sayang banget lho sama kakak.

Kak Aysha nangis terisak-isak.

Bunda: Ayah sedang banyak tekanan pekerjaan, sedang banyak yang dipikirkan. Meskipun ayah tidak mengatakannya, tapi kita yang hatinya hatinya dekat dengan ayah bisa merasakan ketidaknyamanan ayah. Jadi terkadang kita merasa ga nyaman didekat ayah. Tapi bukan berarti ayah ga sayang sama kita. Kita maklumi sikap ayah dulu ya.. kalau-kalau ayah agak berbeda, itu semata karena ayah sedang stress memikirkan tumpukan pekerjaannya. Kita dukung ayah ya.. kita doakan ayah terus..

Kak Aysha menangis, kepalanya direbahkan dipangkuan bunda.

Sambil mengelus kepala kak Aysha, bunda lanjut berkata: Tadi itu Ayah khawatir, karena tangan ayah pernah terluka gegara di sulak ada pakunya. Ayah khawatir kalau di sulak tadi juga Ada pakunya Dan melukai kak Aysha atau dek Arsya, makanya Ayah minta kakak mengalah & ga berebut lagi. Tapi ayah bukan menyalahkan kakak. Bunda juga tahu adik maunya menang sendiri, memang adik sedang dalam masanya pengen menang sendiri. Jadi kakak yang Lebih besar, berikan contoh yang baik untuk adik ya.. adiknya diajari untuk berbagi, kalau pas sedang ga bisa dibilangi, ya kakak yang mengalah dulu. Kalau adik sudah tenang, baru kakak sampaikan kalau adik melakukan Hal yang kurang baik. Menyampaikannya yang lembut, sambil peluk adik, bilang kalau kakak sayang adik. Gitu ya.. Kan kakak partnernya bunda buat ngajari adik.

Kak Aysha memeluk bunda sambil mengangguk, "Terima kasih ya bun..", begitu ucapnya.

Mak nyessss.. ademnya hati ini. Terharu rasanya.. 

Bunda: Nanti kakak baik-baik sama Ayah ya.. Ayah sedih banget itu karena takut Kakak sedih.

Kak Aysha: Hu um (sambil mengangguk.)

Alhamdulillah sisa malam itu berakhir damai. Alhamdulillah Ya Rabbi.. mudah-mudahan seiring waktu, proses belajarmu akan Makin mendewasakanmu nak.. tumbuhlah mekar mewangi, bagikan aroma kebijaksanaanmu untuk semestaNYA. Aamiin..

Bunda sungguh bersyukur sekali malam tadi.

Pagi ini, akhirnya kami berhasil juga masak bersama. Mulai dari menyiapkan bahan sampai masakannya matang.

Barangkali karena ikut terlibat dalam proses memasak, kak Aysha mau makan toge yang biasanya langsung dia singkirkan. Meskipun ia berkata tidak menyukainya, tapi ia tetap memakannya.

Bunda Makin bersyukur.. mudah-mudahan emosimu Tak lagi labil nak.. sehingga mudah bagimu untuk mencapai kematangan emosi yang melahirkan kebijaksanaan dalam menyikapi segala sesuatu.

Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbingmu nak, karena bunda takkan selalu Ada..

#kelasbundasayang

#instituteibuprofessional

#familyproject

#myfamilymyteam