"Sekolahku seluas alam semesta", kira-kira demikian yang ingin saya tanamkan pada Arsya. Dengan demikian, ilmu yang akan dipelajarinya tidak akan berbatas tema, ruang & waktu. Maka sah-sah saja bagi saya, ketika pagi ini ia memilih duduk diatas tumpukan jerami di pinggir sawah sembari mengamati apa yang ada disekitarnya.

Pagi ini ia kembali belajar tentang rantai makanan, meskipun yang ia mengerti baru sebatas ular makan tikus & tikus makan padi. Ada kejadian menarik pagi ini, Saya bercakap dengan Arsya mengenai rantai makanan tersebut.
Ketika saya berkata tikus makan padi, spontan dia menyahut "bunda.. itu salah bunda.. itu burung bunda.. bukan tikus", sembari jemari kecilnya menunjuk pada segerombolan burung kecil yang bertengger di batang tanaman padi & sedang memakan bulir-bulirnya.
Kritis sekali pemikiran anak ini, peringatan bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan segala sesuatu. cool

Kami tinggal di lingkungan yang masih sangat asri, flora fauna masih sangat beragam. Belakang rumah kami adalah area persawahan yang saat ini sedang ditanami aneka tanaman (padi, pepaya, pisang, cabai, terong, kacang tanah, kacang panjang, ubi, jagung, sayur-sayuran & bawang merah). Sepanjang Jalan ditumbuhi rumput-rumput liar & bunga-bunga yang sengaja ditanam oleh petani (bunga matahari, bunga kertas, bunga kenikir, & bunga tembelekan - Lantana Camara). Ketika bunga-bunga tersebut sedang mekar, pemandangan menjadi sangat indah, terlebih bila pagi hari & cuaca cerah, pemandangan tersebut berbonus gunung merapi yg terlihat sangat gagah & menawan. Di pinggir sawah juga terdapat saluran irigasi yang airnya cukup jernih. Arsya selalu mengajak saya bermain air disana ketika airnya mengalir. Saya tidak melarangnya, biarkan saja karena bagi saya yang penting dia tumbuh dengan bahagia. Saya juga menemaninya berbasah-basahan di saluran irigasi tersebut. Kotor? Tak masalah, bisa dibersihkan. Ga khawatir airnya berbakteri? Ga khawatir anak sakit? Jawaban saya "Tidak", jadi teringat iklan sebuah produk detergent "berani Kotor itu baik". Alhamdulillah hingga saat ini catatan kesehatan Arsya sangat baik. Seingat saya, hanya 2 x ia sakit. 1 x demam semalam (tidak minum obat) & yang ke-2 demam tinggi 3hari (terpaksa minum antibiotic karena hasil lab leukositnya tinggi).

Saya biarkan saja Arsya bermesraan dengan Alam, materi belajarnya adalah segala sesuatu yang ia jumpai. Tak masalah ia nyemplung selokan, bermain tanah, bermain pasir, bermain rerumputan, bermain bersama bunga-bunga ataupun menari mengejar kupu-kupu.
Seperti pagi ini, Arsya sibuk mengejar kupu-kupu kecil berwarna kuning sambil berseru penuh semangat "Bunda.. bunda.. Ada butterfly.." & tersenyum manis sekali.
Ia terus saja berlari, sampai melihat sebatang bunga matahari yang sudah mulai mengering, ia berkata "bunda.. bunga matahari bunda.. ayo nyanyi sama-sama..".
Riang sekali anak ini menyanyi sambil menari, bundanya tentu harus ikut serta menyanyi sambil bertepuk tangan
"bunga matahari sangat cantik,
kembang diwaktu pagi,
daunnya hijau,
bunganya kuning,
menarik kumbang lalu,
bunga matahari sangat cantik,
di halaman rumahku,
darilah pagi hingga ke petang Tak jemu ku memandang"
(penggemar upin ipin pasti tahu lagu ini).

"Bersekolah" pagi ini cukup banyak yg ia lakukan & pelajari. Ia mencicipi rasa krokot yang katanya pahit (Ya iya nduk, wong mentah kok ya.. kalau direbus dulu, colekin ke sambal atau dikasih bumbu pecel baru enak nduk laughing). Arsya sudah mengerti betul rasa cabai (pernah ngicipi juga), jadi ketika lewat tanaman cabai "itu cabai.. pedas.. ga enak.. Arsya ga suka".

"Bersekolah" ala Arsya, barangkali terlihat remeh & Tak berguna. Tapi bagi saya tidaklah demikian. Saya cukup terbantu dalam menumbuhkan fitrah keimanannya. Saya selipkan pengajaran-pengajaran tentang Ke-Maha-an-NYA setiap saat. Saya yaqin benih fitrah keimanannya akan semakin subur, seirama harmonisasinya dengan alam semesta-NYA.

Saya tidak akan menggegas Arsya untuk mampu membaca tulisan, menulis maupun menghafal Al Qur'an. Jauh lebih penting bagi saya, memastikan ia menumbuhkan fitrah keimanan yang akan menuntunnya untuk dengan sendirinya mampu Membaca, menulis & memahami surat cinta-NYA.

Artikel Terkait