3th mendampingi kak Aysha yang bersekolah di sekolah formal, membuat saya tertarik dengan konsep homeschooling (meskipun saya juga belum benar-benar mengerti apa & bagaimana homeschooling itu). Kenapa demikian??? Hal tersebut dikarenakan saya melihat dampak negatif yang dialami kak Aysha.

Jadwal sekolah yang padat & PR yang banyak, sangat menyita waktu bermainnya. Persaingan nilai yang ketat & tuntutan untuk berprestasi(nilai baik) dari lingkungan sekolah juga membuatnya sering stress. Akibatnya emosi kak Aysha menjadi tidak stabil. Proses belajar yang seharusnya menyenangkan menjadi sebuah momok yang menakutkan. Pagi hari selalu diawali dengan keengganan untuk berangkat ke sekolah, karena sekolah baginya sangat tidak menarik & membosankan. Saya sering berdiskusi dengan suami mengenai hal tersebut. Kami sepakat bahwa metode pembelajaran di sekolah formal memang kurang cocok untuknya.

Berdasarkan pengalaman mendampingi kak Aysha, saya & suami sepakat untuk menyiapkan proses belajar yang menyenangkan untuk Arsya. Kami sepakat kelak akan membebaskan Arsya untuk memilih, apakah ia akan bersekolah di sekolah formal ataukah belajar di rumah dengan kami orangtuanya sebagai fasilitator. Sebuah keputusan yang sangat nekat karena saya sama sekali belum memiliki gambaran, bagaimana kelak akan memfasilitasinya bila ia memilih belajar di rumah. Hal tersebut mendorong saya untuk bergabung dalam kelas online IIMC(Indonesia Islamic Montessori Community) beberapa waktu yang lalu. Motivasi saya adalah ingin menambah wawasan mengenai metode pembelajaran, pada kesempatan ini adalah metode pembelajaran Montessori. Sebelum saya membagikan pengalaman saya mendampingi Arsya selama bergabung dalam kelas tersebut, saya akan membagikan hasil belajar saya seputar Montessori.

Montessori adalah salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori. Beliau merupakan lulusan dari Universitas Roma jurusan kedokteran pada tahun 1869 dan menjadi salah satu dokter wanita pertama di Italia. Dr. Maria Montessori mengembangkan "Metode Montessori" sebagai hasil dari penelitiannya terhadap perkembangan intelektual anak, yang pada awalnya diterapkan kepada anak yang mengalami keterbelakangan mental, namun diketahui juga efektif untuk anak-anak normal.

Metode pembelajaran montessori meyakini bahwa pendidikan sudah dimulai ketika anak lahir. Metode ini mempunyai landasan pemikiran bahwa dalam tahun-tahun awal, seorang anak mempunyai “sensitive periods” (masa peka). Dalam masa peka tersebut, anak dapat digambarkan memiliki sebuah pembawaan atau potensi yang akan berkembang sangat pesat pada waktu-waktu tertentu. Potensi ini akan mati dan tidak akan muncul lagi apabila tidak diberikan kesempatan untuk berkembang (tepat pada waktunya).

Montessori membagi periode sensitif atau masa peka dalam sembilan tahapan sebagai berikut:

  • Lahir - 3 tahun  : pikiran dapat menyerap pengalaman-pengalaman sensoris
  • 1,5 - 3 tahun    : perkembangan bahasa
  • 1,5 - 4 tahun    : koordinasi dan perkembangan otot, minat pada benda-benda kecil
  • 2 - 4 tahun       : penyempurnaan gerakan, minat pada kebenaran dan realitas, menyadari urutan dalam waktu dan ruang
  • 2,5 - 6 tahun    : penyempurnaan sensoris
  • 3 - 6 tahun      : perhatian yang besar pada hal-hal yang nyata, rawan pengaruh orang dewasa
  • 3,5 - 4,5 tahun : menulis
  • 4 - 4,5 tahun   : penyempurnaan penggunaan panca indera
  • 4,5 - 5,5 tahun : indera peraba mulai berkembang, mulai tumbuh minat membaca

Ciri-ciri metode pendidikan montessori adalah adanya penekanan terhadap aktivitas pengarahan diri pada anak, dan pengamatan klinis dari guru yang berfungsi sebagai fasilitator atau pendamping. Metode ini juga menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar dengan tingkat perkembangan anak dan peran aktivitas fisik dalam menyerap mata pelajaran secara akademis maupun keterampilan praktik secara langsung.

Dasar pendidikan metode pembelajaran montessori menekankan pada tiga hal, yaitu:

  1. Pendidikan sendiri (pedosentris)
    Menurut montessori, anak-anak memiliki kemampuan alamiah untuk berkembang sendiri. Anak memiliki hasrat alami untuk belajar dan bekerja, bersamaan dengan keinginan anak yang kuat untuk mendapat kesenangan. Anak juga memiliki keinginan untuk mandiri. Dalam hal ini, keinginan untuk mandiri tidak muncul atas perintah dari orang dewasa melainkan keinginan tersebut muncul dari dalam diri anak itu sendiri. Dorongan alamiah akan terpenuhi dengan memfasilitasi anak dengan aktifitas-aktifitas yang penuh kesibukan. Namun dalam kegiatan tersebut anak harus berlatih sendiri tanpa dibantu.
  2. Masa peka
    Masa peka adalah masa yang sangat penting dalam perkembangan seorang anak. Ketika masa peka datang, maka anak harus segera difasilitasi dengan alat-alat permainan yang mendukung aktualisasi potensi yang dimiliki. Guru memiliki kewajiban untuk mengobservasi munculnya masa peka dalam diri anak agar dapat memberikan tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi anak.
  3. Kebebasan
    Metode pembelajaran montessori memberikan kebebasan kepada anak untuk berfikir, berkarya dan menghasilkan sesuatu. Hal ini dikarenakan masa peka tidak dapat diketahui kapan kepastian kemunculannya. Kebebasan ini bertujuan agar anak dapat mengaktualisasikan potensi diri sebebas-bebasnya. Metode ini fokus pada pengembangan aspek motorik, sensorik dan bahasa. Metode ini membebaskan anak untuk bergerak , menyentuh, memanipulasi dan bereksplorasi secara bebas.

Metode Montessori mengajarkan 5 bidang utama, yaitu:

  1. Kemampuan berbahasa
    Anak-anak dilatih untuk berkomunikasi di hadapan orang banyak. Salah satu contohnya adalah meminta anak-anak bercerita atau mempresentasikan tema tertentu. Selain itu, anak-anak dapat diperkenalkan dengan huruf melalui permainan. Anak-anak tidak akan merasa tertekan oleh perasaan sedang belajar, mereka akan bergembira dan mengingat semuanya karena merasa sedang bermain. Perlu disadari bahwa kemampuan setiap anak berbeda, sehingga tidak perlu membanding-bandingkan kemampuan setiap anak dalam melakukan sesuatu hal pada saat yang sama.
  2. Konsep matematika
    Matematika dalam hal ini bukanlah belajar perkalian atau rumus-rumus. Matematika mencakup belajar mengenal aneka bentuk, memahami mana ukuran yang lebih besar/kecil, mengenal angka, dan sebagainya. Tanpa disadari, anak-anak belajar angka dan berhitung melalui permainan dan lagu. Anak-anak dapat mengenal konsep bentuk melalui permainan puzzle, balok maupun tebak gambar-gambar menarik.
  3. Budaya
    Anak-anak diajarkan untuk mengantri, sikap sopan santun, tata krama, dan kebaikan. (Masih ingatkah berita viral tentang guru Australia yang mengatakan bahwa lebih baik murid-muridnya bisa mengantri daripada pandai berhitung tetapi tidak bisa mengantri? Mungkin inilah kelemahan sistem pendidikan di Indonesia saat ini, aspek akademis lebih ditekankan daripada aspek budaya, tata krama, dan moralitas, padahal kesuksesan seseorang lebih ditentukan dari EQ, bukan IQ.)
    Anak-anak diajarkan cara mencuci tangan yang baik dan dilakukan rutin sebelum makan.
    Program bermain di halaman dimanfaatkan untuk membuat anak aktif bergerak.
    Ketika ada anak bertengkar, guru dapat mengajarkan anak untuk meminta maaf dan memaafkan.
    Ketika ada anak berebut mainan, guru dapat mengajarkan mengenai konsep "berbagi itu menyenangkan".
  4. Sensorik
    Ada masa ketika anak-anak sangat gemar mengacak-ngacak seisi rumah, saat itu sebenarnya  mereka sedang mengembangkan kemampuan indra sensoriknya. Pada metode Montessori, anak-anak diperkenalkan dengan mainan yang melatih indra sensorik, misalnya botol sensorik, bermain pasir, kacang-kacangan, dan sebagainya. Anak-anak memang gemar dengan permainan-permainan seperti itu. Sebagai contoh, ketika anak-anak bermain dengan kacang hijau, mereka bisa diminta untuk memasukkan butir demi butir ke botol, sehingga melatih gerak motorik halus mereka.
    Musik dan tari juga perlu diajarkan agar anak tidak hanya diam & lebih aktif bergerak.
  5. Kehidupan sehari-hari
    Anak-anak diajarkan berbagai ketrampilan yang membuatnya menjadi balita mandiri, misalnya  cara menggunakan kaos kaki, sepatu, baju, dan celana sendiri.
    Anak-anak diajarkan cara memegang piring dan gelas, serta makan sendiri selayaknya orang dewasa.
    Balita sangat senang sekali bermain air dengan cara menuang air dari wadah satu ke wadah lainnya. Dalam metode Montessori hal ini dimanfaatkan untuk mengajarkan mereka menyiram tanaman sambil menumbuhkan rasa cinta kepada alam dan lingkungan. Anak-anakpun gembira dalam proses tersebut karena mereka bisa menyiramkan air dari gelas ukur ke pot tanaman.

Pada dasarnya, metode pendidikan montessori hampir serupa dengan sistem reguler, karena masih melibatkan peran murid dan guru. Namun, di sekolah reguler, semua pelajaran yang diajarkan berdasarkan kurikulum, sehingga mau tak mau anak-anak “dipaksa” untuk mengerti semua hal yang diajarkan. Sedangkan di sekolah yang menerapkan metode pendidikan montessori, anak-anak diajarkan untuk mandiri. Dengan metode montessori, anak-anak akan belajar melakukan sendiri kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, seperti merapikan tempat tidur, mencuci piring sehabis makan, mengancing baju sendiri dan lain-lainnya. Tidak hanya itu, anak-anak yang belajar dengan metode montessori juga akan bermain dengan aneka permainan yang mendidik. Metode belajar montessori memang secara tidak langsung membantu menumbuhkan keinginan belajar dari anak-anak. Pasalnya, setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Itu sebabnya, dalam metode ini anak-anak dibiarkan bereksplorasi melakukan hal yang mereka sukai. Hal ini dikarenakan, anak-anak jika terlalu banyak dilarang, akhirnya justru akan menjadi bosan dan malas belajar. Meskipun anak dibebaskan bereksplorasi, anak-anak tetap berada dalam prepared environment. Maksudnya adalah anak-anak berada dalam lingkungan atau ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya oleh guru. Lingkungan tersebut tentunya aman, bersih dan mendukung anak bereksplorasi. Namun, terdapat aturan yang jelas dan bebas berbatas. Meski terkesan memiliki metode pendidikan yang bebas dan tidak beraturan, pelajaran yang diajarkan dalam metode ini memiliki artian dan tujuan pendidikan tertentu, anak-anak bisa memilih aktifitas sesuai dengan kegemarannya & sesuai pula dengan usianya.

Berdasarkan uraian tersebut, saya berkesimpulan bahwa metode montessori dapat diterapkan di rumah dengan orangtua sebagai fasilitator. Peran orangtua sebagai pendidik amatlah vital, karena orangtua-lah yang menjadi guru utama dan peletak dasar pembangunan mental anak. Metode montessori menekankan perlunya memberikan pendidikan dan pendampingan pada anak untuk membangun kemandirian dan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki anak, orangtua dapat memanfaatkan kondisi dan fasilitas yang ada di rumah untuk melakukannya. Kebetulan Arsya adalah anak dengan gaya belajar visual, audio & kinestetik, sehingga saya merasa metode ini cocok untuknya.