Materi kelas pekan pertama adalah mengenai filosofi Montessori. Selain dari materi yang diberikan, saya kepo sana-sini mengenai apa sih Montessori itu? Dan hasilnya bisa dilihat disini.

Pekan ke-2 adalah menyiapkan alas kerja. Barangkali akan ada banyak pertanyaan terkait alas kerja ini, misalnya "Apa sih yang ingin kita ajarkan?", "Kenapa harus memakai alas kerja?", "Tidakkah cukup disediakan ruang bermain saja?", "Alas kerjanya dari bahan apa?", dll.

Sebenarnya alasan penggunaan alas kerja tersebut sangat sederhana, kita akan menanamkan konsep batasan pada area anak melakukan kegiatan. Kenapa? Karena dengan tertanamnya konsep tersebut, anak akan mengetahui bahwa ia memiliki sebuah area kerja. Dengan demikian ketika anak bermain, ia akan fokus di satu tempat & materi bermainnya tidak tercecer kemana-mana (Terdengar sangat menyenangkan bagi bunda bukan??? Bunda tidak harus melihat mainan berceceran dimana-mana  laughingsmilecool).

Alaskerja yang direkomendasikan di kelas adalah berbahan kain kanvas atau blacu dengan ukuran 100cmx50cm, tapi karena toko kain jauh dari tempat tinggal kami, akhirnya alas kerja Arsya terbuat dari bahan kain seadanya (tak tahu namanya, hanya cari kain sisa di penjahit dekat rumah. cool It's OK, yang penting tujuan tercapai kan ya..? laughing). Tujuan dari menyiapkan alas kerja adalah melatih kemandirian & kedisiplinan anak, merangsang motorik halusnya, mengajarkannya tanggung jawab serta melatih koordinasi mata & tangan.

Alas kerja sudah tersedia, saatnya praktek menyiapkan alas kerja. Pada awalnya saya memberikan contoh bagaimana cara menggelar dan menggulung alas kerja tersebut.
Arsya sangat bersemangat "Arsya bisa. Arsya bisa", dan mencoba melakukannya.
Beberapa kali mencoba dan belum bisa melakukannya dengan baik, Arsya menjadi senewen sendiri.
Kainnya dilempar-lempar sambil berkata "ga boleh.. jangan gitu-gitu.. ga boleh.." dengan ekspresi kecewa.
Akhirnya saya merentangkan tangan, berkata sembari tersenyum "sini.. bunda sayang Arsya lho".
Arsya menghambur kedalam pelukan saya, dan saya pun berkata padanya "gapapa sayang, kita bisa coba lagi". Puk.. puk.. puk..